Saturday, November 24, 2007

I think most people are losers who can't put their words into action

Sebenarnya gw pertama baca artikel ini beberapa minggu yang lalu, cuma link-nya baru ketemu lagi sekarang.
Jadi ceritanya, Radical Honesty itu sebuah 'gerakan' yang mendorong orang berkata jujur, sejujur-jujurnya. Mau tentang hal baik kek, buruk kek, yang penting jujur. Radikal sekali bukan? =)

Jadi inget, dulu gw pernah 'terlalu' jujur. Sekarang udah enggak sih. Ah.. sayang kayaknya sekarang gw udah ga punya nyali lagi..

Ini artikelnya:
Radical Honesty
enjoy! :)

Sunday, November 4, 2007

Pecahkan saja MASALAHNYA biar ramai...

... biar mengaduh sampai gaduh.
Lalu lari ke pantai aku..
Lalu teriak aku...
Lalu aku guling-guling...
Lalu lari ke gunung aku...
Lalu aku guling-guling lagi...

LHO!! Bukan begitu!!!

*sekarang kita serius*

Kehidupan itu tidak selalu enak, makanya banyak masalah di sekitar kita.

"Itulah nikmatnya hidup!! Kalau enak terus bukan hidup namanya!!!", kata guru pianonya Aldi.

Yea, masalah emang wajar dan ada di mana-mana, tapi bukan berarti kita ga boleh menyelesaikannya, apabila mampu, bukan?
Sebagai calon engineer yang Siaga (siap-antar-jaga), saya coba memahami sebuahproblem solving approach yang sudah tersedia. Here is the story:

Seekor ikan mas jantan yang ganteng bingung bukan kepalang. Sudah beberapa minggu air kolam tempatnya tinggal berada dalam situasi yang tidak menentu. Kadang-kadang airnya lezat, kadang-kadang pait siga nu maca. Terdorong oleh keinginan untuk hidup, dia pun menyewa jasa seorang Engineer Siaga.

Engineer itu langsung membuat catatan-catan rumit...

Identifikasi -> Sintesis -> Analisis -> Aplikasi -> Komprehensi -> Solusi

*sayangnya ikan mas yang malang takkan pernah tahu apa isi catatan tersebut, karena sekarang saya sedang malas nulis lelah. Tapi jangan bersedih, karena postingan ini akan di edit di kemudian hari..*

Angka-mengangka

Aku lahir di sebuah pagi imitasi
Tumbuh bersama harum bunga plastik
Dan matahari yang bersinar dari TV
Bapakku listrik, ibuku pulsa
Namaku urutan angka-angka, 1,2,..
-aduh-lupa-namanya-


*disclaimer*
Itu secarik puisi yang menggambarkan keberadaan angka di jaman sekarang yang bertebaran di mana-mana, yang ngarang.. emm.. aduh.. lupa. Yah, tar kalo gua inget ya gua edit deh. Sori ya mas yang ngarang, bukan maksud menjiplak. Credit buat dia.
*disclaimer selesai*

Jadi apapun seseorang, hidupnya pasti berurusan dengan angka, termasuk engineer. Coba kalo angka gak ada, dijamin idup makin ribet. Ternyata, menulis angka pun ada aturannya. Misalnya, ini aturannya jaman dulu:
1. Aturannya orang Amerika.
misal: 120,000,000.01 --> nulis titiknya make koma, komanya make titik. Bingung? Ah, ke laut aja lu. Intinya sih untuk tiap tiga angka pake koma, dan untuk desimal pake titik. Aturan yang aneh..
2. Aturannya orang Indonesia, juga Eropa.
misal: 120.000.000,01 --> nulis titik ya make titik, nulis koma ya make koma!! Aturan yang sehat, indah dan waras, hehe narsis edan..

Aturan jaman sekarang: Setiap tiga angka pake spasi, dan untuk desimal pake titik.
misal: 120 000 000.01.

Loh ko jadi pusing ngeliat nol nya?
Makanya ada notasi scientific.
misal: 1,2 x 10^8
Loh, angka satu yang di belakang ke mana? Itu yang namanya angka gak penting.
Untuk pembahasan angka penting dan gak-penting akan dilanjutkan nanti karena saya cape.

Tuesday, October 23, 2007

Jalan-jalan yuk

Baru selesai baca Samarkand-nya Amin Maalouf. Mengerikan. Gw yang asalnya anti sastra-sastraan sampai terlena dan hilang kesadaran, eh pas sadar-sadar udah sedang download Rubaiyat-nya Omar Khayyam. Buku yang mengerikan.

Pokoknya, membaca buku itu membuat daftar panjang tempat-tempat yang pengen gw kunjungi bertambah lagi.
Nah, sekarang mari bermain sebuah permainan, namanya 'If you could visit any place in the world, where would you go?'

1. Mekkah dan Madinah. Bukan, gw bukan mau jadi TKI, hehe..
2. Venice. Ngebayangin pemandangan laut, taman" gede di sana, mosaic on its walls, swimming at sunset, still sleeping at sunrise..
3. Bukittinggi, buat menghayati sejarahnya PDRI.
4. London. Karena waktu berjalan lambat disana. Gw juga penasaran, kenapa ya di film" kalo orang Inggris ngomong pake logat british-nya kedengerannya sophisticated banget. Tukang pel di kafe nya aja kalo ngomong kayak lulusan Ph.D Harvard!
5. Magdeburg, Germany. Mau lihat jembatan Water Bridge.
6. Vatican + Rome. Does a non-Catholic allowed to go in there?
7. Stampede Trail, Alaska.
8. Paris.
9. Los Angeles. Wanna go touch the Hollywood sign, for good luck! :)
10. Tokyo.
11. Samarkand (the most beautiful face of the earth ever faced the sun), Isfahan (Esfahan, Nesf-E Djahan!-Isfahan, separuh dunia!), Trebiz, Kom, Rayy, dan tetangga" mereka. I think I'm an Orientalist at heart..

Banyak juga ya, hmm..
Harus mulai ngumpulin duit dari sekarang.

Bangkit dan lekaslah berdiri!
Untuk tidur masih terbentang keabadian menanti.


DISCLAIMER: Post ini terinspirasi oleh The Rubaiyat of Omar Khayyam. Foto didapat dari Pendekar Ciung Wanara.

Tuesday, October 2, 2007

The Making of "Estimasi Diameter Bulan": Seriously, Time IS Money

Pas nyari bahan diskusi kelompok kontek di comlabs, awalnya sih asik" aja, ketawa" sambil nge Rileks dan lihat" blognya si Kambing. Segalanya begitu menyenangkan sampai gw berniat logout dan membuka dompet.

Cuma ada selembar duit seribuan, di tengah puluhan tiket parkir merah muda.
Billing udah 1 jam 27 menit.. Rp 1.500. Uh-oh.
Dengan sadis gw mutilasi dompet untuk mencari recehan yang mungkin nyelip".. ketemu 850 perak, jadi Rp 1.850. Nyantei, masi lebih dari cukup..

Cepat” gw tutupin semua layar yang kebuka. Masih lancar” aja, sampai layar terakhir, Windows Commander, ngadat. Klik. Ga ngaruh. Klik. Klik klik klik… Gw mulai penasaran –dan panik. Gw ngelirik billing sambil nahan napas..

1 jam 29 menit 56 detik.. 57.. 58.. 59..
Rp 2.000. Mampus!
Begitu udah tenang pelan-pelan gw geser tuh layar billing yang nutupin commander. Ternyata sodara”, di belakang nya ada tulisan kecil ‘time out-abort connection?’ dengan tombol ok di bawahnya. Klik. Bisa ditutup. Yang baleg lah!

Kelar satu masalah, gw nyari orang buat dipinjemin duit. Sialnya di dalem ga ada yang gw kenal. Alhamdulillah otak gw encer, jadi gw ngeloyor gitu aja nyari orang di luar. Eh pas keluar ada Bendot calon korban yang baik hati. Nuhun, doth.

Epilog: Pas balik ke komputer, masih 1 jam 30an menit. Ya udah nge-net lagi sampe ampir 2 jam.. hehe..

Moral of the story: Kalau ga bawa uang, JANGAN masuk comlabs. Pokoknya jangan.

Estimasi Diameter Bulan

Gimana cara menghitung diameter bulan? sedangkan kita tahu bulan itu jauh tetapi tidak sejauh matahai dan sangat besar tetapi tidak sebesar bumi.


bulan.jpg


cara yang akan kami gunakan yaitu trigonometri.

ilustrasinya:

dengan perbandingan segitiga sebangun, kita dapat menghitung:



  1. Diameter bulan/jarak mata-bulan = diameter koin/jarak mata-koin kita tidak tahu jarak permukaan bumi-bulan, maka dengan cara trignometri, kita dapat menghitungnya. syarat pertama, harus dilakukan disaat bulan purnama agar bumi segaris dengan bulan. kedua, dari equator bumi, kita berjalan menuju kesalah satu kutub (asumsikan bumi datar) sepanjang hingga cukup jauh untuk melihat bulan dengan kemiringan tertentu(optional). hitung berapa sudut yang dibutuhkan untuk melihat bulan. hitung menggunakan tangen:


  2. Jarak permukaan bumi-bulan= Jarak dari equator*tanθ tetapi, karena percobaan ini sulit (dan mahal) bersyukur ada ensiklopedi yang bernama wikipedia.org yang memberi jarak permukaan bumi-bulan = 384400km.

  3. Jadi kita dapat meneruskan rumus 1 Diameter bulan (x) = diameter koin (1.5 cm) Jarak mata-bulan (384400km) jarak mata-koin (160cm) x = 1.5/160*384400km x = 3604 km


sekian cara mencari diameter bulan dari kami;



Andi Hendra


Cecep Ginanjar


Fahmi Rahmadani


Inge Annisa Fitri


Intan Indahsari


Stella Maris

Thursday, September 27, 2007

Paten...

Kuliah bersama kemarin diisi sama dosen dari Hukum Unpad, dan dia cerita panjang-lebar tentang Intellectual Property in Digital Environment, intinya sih pembajakan dan kontra-pembajakan begitu..

Ini ringkasannya:

Globalisasi dibagi 3 babak besar, yaitu
1. Globalisasi 1.0 = pas

negara-negara Eropa

berkeliling dunia dengan gembira karena menemukan sumber rempah-rempah. Ini yang memicu zaman imperialisme-kolonialisme. Di titik ini, kewarganegaraan penting banget untuk menentukan status sosial seseorang. Maka, berlomba-lombalah orang mendaftar jadi anak buah kompeni.
2. GLobalisasi 2.0 =

perusahaan-perusahaan multinasional

gencar mencari tempat menjual produk-produk mereka, dan dengan gembira pula menemukan konsumen setia di negara-negara berkembang (kayak negara kita). Sekarang, ga peduli warga negara apa, asal kerjanya di perusahaan gede yang bonafid, orang udah ngerasa gaya.
3. GLobalisasi 3.0 = negara udah ga jaman, perusahaan udah banyak, sekarang giliran

KITA !

. Orang-orang dari berbagai penjuru dunia udah ga memperdulikan lagi, apa kewarganegaraan mereka, di perusahaan mana mereka bekerja, yang penting adalah apa yang bisa mereka lakukan. Prinsip 'value by do' inilah yang memicu persaingan produktivitas yang gencar saat ini.

Waktu itu dijelaskan juga masalah paten, copyrights, hak cipta, dll.
Gw baru tau, ternyata emang cuma Amerika yang melindungi patennya di seluruh dunia. ck ck, licik amat ya.. pantes orang-orang India, Cina, Indonesia juga, pada bikin paten di sana.